Mengapa Allah bersumpah dengan buah tin dan zaitun dalam Al-Qur’an?
Pertanyaan ini muncul ketika kita membaca QS At-Tin, sebuah surat pendek yang mengandung pesan mendalam tentang hakikat manusia. Dalam penjelasan Tafsir Ibnu Katsir, sumpah yang disebutkan dalam awal surat ini menunjukkan pentingnya pesan yang akan disampaikan setelahnya.
Allah bersumpah dengan tin dan zaitun, kemudian dengan Bukit Sinai, serta dengan kota yang aman, yaitu Makkah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tempat-tempat ini memiliki hubungan dengan para nabi besar dan tempat turunnya wahyu. Bukit Sinai adalah tempat Nabi Musa menerima wahyu, sementara Makkah adalah kota tempat diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
Setelah menyebutkan sumpah tersebut, Allah menegaskan sebuah fakta penting tentang manusia: “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan bentuk yang sempurna, memiliki akal, kemampuan berpikir, dan potensi untuk mengenal Allah.
Namun manusia juga memiliki kemungkinan untuk jatuh pada keadaan yang rendah. Allah berfirman bahwa sebagian manusia akan dikembalikan ke tempat yang serendah-rendahnya. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal ini terjadi ketika manusia meninggalkan iman dan amal shalih, sehingga kehilangan kemuliaan yang telah Allah berikan.
Akan tetapi, ada pengecualian bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Mereka tidak akan mengalami kerugian tersebut. Allah menjanjikan pahala yang tidak terputus bagi mereka.
Di akhir surat, Allah menegaskan bahwa setelah semua bukti dan peringatan ini, tidak ada alasan bagi manusia untuk mendustakan hari pembalasan.
Simak Video Surat At-Tiin di Instagram Ahlul Quran Application https://www.instagram.com/p/DV3E9cdE4sM/
Sumber : Buku Tafsir Ibnu Katsir

