Ikhfa Syafawi — Menyamarkan Mīm di Bibir
Ikhfa Syafawi (إِخْفَاء شَفَوِي) adalah hukum kedua dari tiga hukum mīm sukūn. Kata ikhfā berarti "menyamarkan", sedangkan syafawi berarti "bibir". Hukum ini berlaku ketika mīm sukūn (مْ) bertemu satu huruf saja: bā' (ب).
Cara membacanya, mīm sukūn disamarkan di bibir dengan dengung selama 2 harakat. Bibir atas dan bawah hampir bertemu tapi tidak rapat sempurna — sehingga terjadi suara samar yang khas, bukan mīm yang utuh dan bukan bā' yang langsung.
Disebut "syafawi" (bibir) karena dua huruf yang terlibat — mīm dan bā' — sama-sama keluar dari bibir. Pertemuan dua huruf yang makhrajnya berdekatan inilah yang menghasilkan suara samar khas ikhfa syafawi.
Perbedaan dengan Iqlab: Sering tertukar! Bedanya begini: Iqlab berlaku untuk nūn sukūn/tanwīn bertemu bā' → menukar nūn menjadi mīm samar. Ikhfa Syafawi berlaku untuk mīm sukūn bertemu bā' → menyamarkan mīm yang sudah ada.
Tip praktis: Bibir jangan ditutup terlalu rapat saat membaca, beri sedikit jarak agar dengung bisa keluar dengan jelas. Contoh: tarmīhim biḥijārah (تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ) dari Surah Al-Fīl ayat 4.
Sumber Rujukan
-
Pedoman Daurah Al-Qur'an — Abdul Aziz Abdurrauf, Al-Ḥāfiẓh, Lc. (Markaz Al-Qur'an)
-
Tuḥfatul Aṭfāl — Syaikh Sulaymān al-Jamzūrī (abad 12 H)
-
Al-Muqaddimah al-Jazariyyah — Imām Ibn al-Jazarī (w. 833 H)
-
Mushaf Standar Indonesia — Kementerian Agama RI / LPMQ

