Alif Lām Syamsiyyah — Lām Tidak Dibaca
Alif Lām Syamsiyyah (أَلِف لَام شَمْسِيَّة) adalah hukum bacaan untuk huruf alif lām (الـ) ketika bertemu salah satu dari 14 huruf syamsiyyah: ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن.
Disebut "syamsiyyah" (matahari) dari kata asy-syams (الشَّمْس) — contoh klasik kata yang diawali alif lām syamsiyyah. Filosofinya: sebagaimana sinar matahari menutupi cahaya bulan, huruf lām pada kelompok ini "tertutup" oleh huruf setelahnya — tidak dibaca, melainkan dilebur sepenuhnya.
Cara membacanya: Huruf lām pada الـ tidak dibaca, tetapi huruf setelahnya dibaca dengan tasydīd (ّ). Contoh: ٱلشَّمْس tidak dibaca al-syams, melainkan asy-syams. Sama seperti idgham — peleburan dengan penegasan pada huruf kedua.
Tanda di mushaf: Pada Mushaf Standar Indonesia, alif lām syamsiyyah dapat dikenali dari tasydīd pada huruf setelah lām, dan lām itu sendiri tidak diberi sukun.
Tip praktis: Jangan dibaca "al-..." untuk 14 huruf ini. Lebur lām, beri tasydīd pada huruf berikutnya. Contoh: ٱلرَّحْمٰن = ar-raḥmān (bukan al-raḥmān), ٱلنَّاس = an-nās (bukan al-nās).
Sumber Rujukan
-
Pedoman Daurah Al-Qur'an — Abdul Aziz Abdurrauf, Al-Ḥāfiẓh, Lc. (Markaz Al-Qur'an)
-
Tuḥfatul Aṭfāl — Syaikh Sulaymān al-Jamzūrī (abad 12 H)
-
Al-Muqaddimah al-Jazariyyah — Imām Ibn al-Jazarī (w. 833 H)
-
Mushaf Standar Indonesia — Kementerian Agama RI / LPMQ

