Pendahuluan: Islam adalah Nikmat Terbesar dari Allah
Sumber: Ceramah di Mirdif Mosque, UAE
Di antara nikmat terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahkan kepada hamba-Nya adalah nikmat iman dan Islam. Nikmat ini jauh lebih berharga daripada harta, kedudukan, jabatan, maupun berbagai kesenangan duniawi yang dapat hilang kapan saja.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan syariat-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Syariat tersebut mengarahkan manusia kepada kebaikan, memperbaiki kehidupan mereka di dunia, serta menjadi sebab keselamatan mereka di akhirat. Melalui Al-Qur’an dan penjelasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah menunjukkan jalan yang benar agar manusia tidak tersesat dalam menjalani kehidupannya.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Innaddīna ‘indallāhil-islām.
“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)
Ayat ini menegaskan kedudukan Islam sebagai agama yang diridai Allah. Oleh karena itu, menjadi seorang Muslim bukanlah sesuatu yang patut dianggap biasa. Keislaman kita merupakan karunia besar yang harus disyukuri, dijaga, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Islam adalah Agama yang Sempurna dan Petunjuk yang Jelas
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan manusia hidup tanpa petunjuk. Dia menurunkan Al-Qur’an dan mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran, membimbing manusia menuju tauhid, serta mengajarkan bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Al-yauma akmaltu lakum dīnakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘matī wa raḍītu lakumul-islāma dīnā.
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Kesempurnaan agama ini menunjukkan bahwa Islam memiliki landasan yang jelas dalam perkara akidah, ibadah, akhlak, dan berbagai aspek kehidupan yang diatur oleh syariat.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pedoman utama. Ketika menghadapi persoalan, ia tidak semestinya hanya mengikuti hawa nafsu, kebiasaan masyarakat, atau pendapat yang sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, ia perlu berusaha memahami petunjuk agama dengan benar dan mengamalkannya sesuai kemampuannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Yā ayyuhalladzīna āmanū aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulil-amri minkum, fa in tanāza‘tum fī syai’in fa ruddūhu ilallāhi war-rasūli in kuntum tu’minūna billāhi wal-yaumil-ākhir.
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.”
(QS. An-Nisa’: 59)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan prinsip mendasar dalam kehidupan seorang Muslim. Al-Qur’an dan Sunnah menjadi rujukan untuk menimbang kebenaran, terutama ketika manusia menghadapi perselisihan dan perbedaan pendapat.
2. Berpegang Teguh pada Sunnah Rasulullah dan Petunjuk Khulafaur Rasyidin
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan sekaligus nasihat yang sangat penting kepada umatnya. Beliau menjelaskan bahwa setelah wafatnya, umat Islam akan menghadapi berbagai perselisihan. Karena itu, beliau memerintahkan umatnya untuk berpegang teguh pada Sunnah beliau dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Fa‘alaikum bisunnatī wa sunnatil-khulafā’ir-rāsyidīnal-mahdiyyīn, ‘aḍḍū ‘alaihā bin-nawājidz.
“Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian.”
(HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676; hadis ini dinilai hasan sahih oleh At-Tirmidzi.)
Ungkapan “gigitlah dengan gigi geraham” menggambarkan kesungguhan dalam mempertahankan sesuatu yang benar. Sebagaimana seseorang menggigit dengan kuat agar sesuatu tidak terlepas, demikian pula seorang Muslim diperintahkan untuk berpegang teguh pada petunjuk agama.
Namun, berpegang teguh pada Sunnah bukan sekadar mengucapkan bahwa kita mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kecintaan tersebut harus terlihat dalam ketaatan, ibadah, akhlak, dan cara kita menjalani kehidupan.
Kita perlu mempelajari Sunnah dengan benar, memahami penjelasan para ulama yang tepercaya, serta mengamalkannya dengan ikhlas. Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menjadikan hawa nafsu sebagai ukuran kebenaran.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa beliau telah meninggalkan petunjuk yang terang. Dalam riwayat Ibnu Majah, beliau bersabda:
قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ
Qad taraktukum ‘alal-baiḍā’i lailuhā kanahārihā, lā yazīghu ‘anhā ba‘dī illā hālik.
“Sungguh, aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya setelahku kecuali orang yang binasa.”
(HR. Ibnu Majah no. 43)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa petunjuk Rasulullah telah menjelaskan jalan kebenaran. Tantangan bagi umat Islam bukanlah sekadar mengetahui adanya petunjuk tersebut, melainkan bersungguh-sungguh mengikuti dan mempertahankannya di tengah berbagai godaan, keraguan, serta perselisihan.
3. Bersyukur atas Nikmat Menjadi Seorang Muslim
Wahai saudaraku, salah satu bentuk syukur terbesar adalah menyadari bahwa Allah telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman, tauhid, dan Islam.
Tidak semua manusia mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal kebenaran dan mengamalkannya. Karena itu, janganlah kita memandang keislaman sebagai sesuatu yang biasa, apalagi merasa bahwa iman akan selalu bertahan tanpa perlu dijaga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
Qul bifaḍlillāhi wa biraḥmatihī fabidzālika falyafraḥū, huwa khairum mimmā yajma‘ūn.
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’”
(QS. Yunus: 58)
Ayat ini mengajarkan bahwa karunia dan rahmat Allah merupakan sesuatu yang layak disyukuri dan disambut dengan kegembiraan. Para ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, menjelaskan ayat ini dalam kaitannya dengan petunjuk dan agama kebenaran yang Allah anugerahkan kepada manusia.
Harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan dunia memang dapat memberikan kebahagiaan. Akan tetapi, semua itu tidak sebanding dengan nikmat memperoleh petunjuk Allah dan menjalani kehidupan di atas iman.
Lantas, bagaimana kita menunjukkan rasa syukur atas nikmat Islam?
Pertama, dengan meyakini bahwa hidayah berasal dari Allah.
Kedua, dengan mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah agar ibadah serta keyakinan kita dibangun di atas ilmu.
Ketiga, dengan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menjaga kejujuran, menunaikan amanah, memperbaiki akhlak, dan menjauhi kemaksiatan.
Keempat, dengan mengajak keluarga dan orang-orang di sekitar kita kepada kebaikan melalui nasihat yang bijaksana dan teladan yang baik.
Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui hati, perkataan, dan perbuatan.
4. Jangan Merasa Aman dari Godaan yang Dapat Menggoyahkan Iman
Di antara perkara yang perlu kita waspadai adalah perubahan keadaan hati. Seseorang mungkin berada dalam ketaatan pada suatu masa, tetapi kemudian menghadapi ujian yang menggoyahkan keyakinan dan semangat beragamanya.
Karena itu, seorang Muslim tidak sepatutnya merasa bahwa dirinya pasti aman dari penyimpangan. Kita membutuhkan pertolongan Allah setiap saat agar dapat terus berada di jalan yang diridai-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan doa berikut kepada orang-orang beriman:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba‘da idz hadaitanā wa hab lanā mil ladunka raḥmah, innaka antal-wahhāb.
“(Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.’”
(QS. Ali ‘Imran: 8)
Doa ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman sekalipun tetap membutuhkan pertolongan Allah agar hati mereka tidak menyimpang setelah memperoleh petunjuk.
Oleh sebab itu, jangan hanya memohon kemudahan dalam urusan dunia, seperti rezeki, pekerjaan, kesehatan, dan keluarga. Mohonlah pula agar Allah menjaga iman kita, memperbaiki hati kita, serta meneguhkan langkah kita dalam menjalankan agama-Nya.
Kita juga perlu menjaga lingkungan pergaulan, memperbanyak ilmu yang bermanfaat, memelihara ibadah, dan menjauhi hal-hal yang dapat melemahkan keimanan. Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba, sementara pertolongan dan keteguhan hati tetap berada dalam kekuasaan Allah.
5. Beramal dengan Ilmu dan Memohon Istikamah hingga Akhir Hayat
Setelah mengetahui kebenaran, kewajiban kita bukan berhenti pada pengetahuan. Kita harus berusaha mengamalkan apa yang telah kita pelajari.
Ilmu agama seharusnya membimbing kita menjadi hamba yang lebih taat, lebih rendah hati, lebih ikhlas, dan lebih baik akhlaknya. Jangan sampai kita mengetahui banyak dalil, tetapi lalai memperbaiki diri sendiri.
Beramallah sesuai dengan kemampuan, teruslah belajar, dan perbaikilah kekurangan secara bertahap. Apabila terjatuh dalam kesalahan, segeralah bertobat dan kembali kepada Allah. Jangan menjadikan dosa sebagai alasan untuk berputus asa dari rahmat-Nya.
Di samping itu, kita perlu senantiasa memohon agar Allah menutup kehidupan kita dengan iman dan Islam.
Kita tidak mengetahui kapan ajal akan datang. Kita juga tidak mengetahui ujian apa yang akan kita hadapi pada masa mendatang. Karena itu, yang terpenting bukan sekadar bagaimana kita memulai perjalanan sebagai seorang Muslim, melainkan bagaimana kita berusaha mempertahankan iman sampai akhir kehidupan.
Meninggal dunia dalam keadaan beriman merupakan harapan besar setiap Muslim. Untuk itu, kita harus menggabungkan usaha dan doa: berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah, memperbaiki amal, bertobat dari dosa, serta memohon keteguhan kepada Allah.
Janganlah kita terlalu percaya diri dengan amal yang telah dilakukan. Sebaliknya, tetaplah berharap kepada rahmat Allah, takut terhadap akibat perbuatan buruk, dan bersungguh-sungguh dalam memperbaiki diri.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam ketaatan, teguh di atas tauhid, dan diwafatkan dalam keadaan beriman kepada-Nya.
Penutup: Memohon Keteguhan Iman kepada Allah
Wahai saudaraku seiman, Islam adalah karunia yang sangat besar. Al-Qur’an adalah petunjuk dari Allah, sedangkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana petunjuk tersebut diamalkan dalam kehidupan.
Karena itu, marilah kita mensyukuri nikmat Islam dengan mempelajarinya, mengamalkannya, dan menjaganya hingga akhir hayat.
Janganlah kita hanya bersemangat ketika keadaan mudah, tetapi tetaplah taat ketika menghadapi kesulitan. Jangan pula merasa cukup dengan pengetahuan, tetapi berusahalah agar ilmu tersebut membuahkan amal saleh.
Kita memohon kepada Allah agar senantiasa membimbing kita kepada kebenaran, menjaga hati kita dari penyimpangan, dan menganugerahkan keikhlasan dalam setiap perkataan serta perbuatan.
Doa penutup
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ
Allāhumma yā muqallibal-qulūb, tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik.
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2140, dengan redaksi doa yang dikenal dalam hadis tersebut.)
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْإِخْلَاصَ فِي الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَالثَّبَاتَ عَلَى الْإِيمَانِ حَتَّى نَلْقَاكَ.
Allāhumma innā nas’alukal-ikhlāṣa fil-qauli wal-‘amali, wa ḥusnal-khātimah, wats-tsabāta ‘alal-īmāni ḥattā nalqāk.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keikhlasan dalam perkataan dan perbuatan, akhir kehidupan yang baik, serta keteguhan iman hingga kami berjumpa dengan-Mu.”
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kecintaan terhadap iman, jadikanlah iman itu indah dalam hati kami, dan jauhkanlah kami dari kekufuran, kefasikan, serta kemaksiatan.
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan keberkahan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
Amin, wahai Tuhan seluruh alam.
